Pernah nonton Topeng Monyet?, Topeng Monyet adalah salah satu tontonan tradisional rakyat yang makin lama makin jarang keliatan. Hiburan ini sebenernya sangat menghibur terutama buat anak-anak, meskipun bunda dari dulu ga begitu suka dengan pertunjukan yang menggunakan hewan untuk membantu pertunjukan atau bahnak obyek utama pertunjukan. Kami punya sedikit cerita tentang topeng monyet ini....
Wiken Sabtu yang cerah....Kayla dah bersiap dandan rapi buat main di Alun-alun. Maklum, beberapa hari ini bahkan semingguan terahir kota ini ga pernah lepas dari guyuran hujan, yang biasanya terjadi setelah jam satu siang (mulai masuk musim pancaroba mungkin). Hawa kota ini juga menjadi sangat panas siang malam....(kalo ga banyak sabar, suka terbawa emosi saking panasnya)...Global warming getting worse
.
Sore yang "lumayan" cerah ini, bunda ma kay n Ayah berencana main di Alun-alun, saben sore alun-alun kota penuh ma lautan anak-anak, dari bayi yang masi merah warnanya ampe bapak-bapak dan Ibu-ibu bahkan kadang udah kakek dan nenek juga pada ngumpul di Alun-alun. Alun-alun ini tempatnya 2x lapangan sepakbola, setelah alun-alun di satukan sekarang rumputnyapun di rawat extra (soalnya setiap beberapa hari sekali sering terlihat petugas yang sibuk menyemprot rumput dengan pipa gede yang tersambung ke sebuah mobil tangki berlabel PEMDA ).
Eniwei, balik ke alun-alun ....
jam setengah lima kami dah nyampe (butuh waktu 10 menit dari rumah ke alun-alun) ternyata "temen-temen" Kay dah pada berkumpul, karena sore ini langit cerah dan awannya bagus pengunjung yang dateng keliatannya lebih banyak dari wiken-wiken sebelumnya rupanya, kegiatan ngumpul-ngumpul kayak gini bisa melupakan sementara waktu aktivitas kerja dan kesibukan lain yang setiap hari mengimpit kita...
Kayla suka sekali dengan envi alun-alun ini, soalnya selain tempatnya luas banget n seger dengan rumput dan beberapa pohon beringin teduh. Kami mengajak Kay kesini selain buat lebih belajar jalan juga biar dia bisa sosialisasi ma temen-temen sebayanya. Karena envi perumahan yang kami tempati masi lumayan sepi, perumahan baru baru sih, cuma da beberapa temennya Kay yang umurnya sebaya tapi jarang juga ketemuannya. Alun-alun dah dipenuhi anak-anak kecil yang berlarian, nangkep bola, main balon sabun, "bengong", makan sore, naik odong-odong, dan masih banyak yang lainnya.
Nah, belum lama berjalan di atas rerumputan, terdengar alunan musik khas "Topeng Monyet" ternyata bener, di ujung alun-alun sebelah barat utara terdapat pertunjukan "Topeng Monyet"(biasanya kami ga pernah liat ada topeng monyet mentas disini) karna seakan-akan semua pengunjung di alun-alun tersedot kearah suara yang mengiringi pertunjukan "topeng monyet" spontan Kay juga berjalan mengarah ke sumber suara dan Ayah juga menuruti saja kemana kaki Kay berayun. Ayah dan Kay berhasil masuk ke dalam lingkaran penonton dan duduk tepat di linggkaran terdepan, sedang enda hanya berdiri di lingkaran luar.

Awalnya, Joki Topeng Monyet mempertontonkan kelincahan monyetnya dengan mengenakan baju biru sambil bawa gerobak mini-nya. Sesekali monyet itu sengaja menabrak penonton. Beberapa penonton ada yang takut dan seketika itu berlari saat monyet itu mendekat dan teriakanpun pecah walaupun setelahnya penonton tertawa terpingkal-pingkal. Makin lama monyet itu, disuruh tampil lebih atraktif sama Joki, tanpa ragu-ragu pelatih yang memegang rantai monyet menarik rantai yng terikat kuat dileher si monyet. Kok, lama-lama aku jadi ga betah lagi nontonnya, terlalu sadis mungkin. Aku kasian aja acapkali aksi si-Monyet melambat, sentakan kuat harus diterima si monyet dilehernya, As a human, aku ngerasa miris.
Ditengah pertunjukan, hiks...hiks...hwaaaa!! tangisan Kay membuat Ayah sesegera mambawanya ke Enda dan membuat Enda tersentak dari lamunannya, ternyata Kayla nangis waktu liat banyak penonton menjerit-jerit takut (ternyata si monyet makin agresif)...
Sepertinya....Kay mulai sensi sama teriakan...aku harus segera merecover kondisi ini, paling nggak untuk saat ini aku menguasai perasaan takutnya dengan menjauhkannya terlebih dahulu dengan sumber ketakutannya (teriakan, panik...)
Untuk meredam ketakutannya, kami berjalan-jalan kembali dan menemukan beberapa anak yang sedang naik Odong-odong, ya udah Kay naik Odong-odong (sampe lama lo), dia mengangguk-anggukan kepalanya saat musiknya diputer dan diem saat nggak ada musiknya bahkan sesekali terdengar suara "ahhh ..." waktu musiknya berhenti, dan alhamdulillah lumayan menghibur...
Kami pulang Bada Maghrib, setiba di rumah Kay makan baso dan nonton "Are Smart Enough Than 5th Grade" bintang tamunya kocak banget, desta ma Vincent Club 80's. Bunda ma Ayah juga saling secepet-cepetan jawab pertanyaannya, kalo ada hubungannya ma IPA, Matematika udah pasti enda jagonya...tapi kalo ada hubungannya ma IPS, SENI ma olahraga, Ayahlah yang paling jago dan kencenga jawabnya...(ok, 50-50 ya)
Wiken Sabtu yang cerah....Kayla dah bersiap dandan rapi buat main di Alun-alun. Maklum, beberapa hari ini bahkan semingguan terahir kota ini ga pernah lepas dari guyuran hujan, yang biasanya terjadi setelah jam satu siang (mulai masuk musim pancaroba mungkin). Hawa kota ini juga menjadi sangat panas siang malam....(kalo ga banyak sabar, suka terbawa emosi saking panasnya)...Global warming getting worse
Sore yang "lumayan" cerah ini, bunda ma kay n Ayah berencana main di Alun-alun, saben sore alun-alun kota penuh ma lautan anak-anak, dari bayi yang masi merah warnanya ampe bapak-bapak dan Ibu-ibu bahkan kadang udah kakek dan nenek juga pada ngumpul di Alun-alun. Alun-alun ini tempatnya 2x lapangan sepakbola, setelah alun-alun di satukan sekarang rumputnyapun di rawat extra (soalnya setiap beberapa hari sekali sering terlihat petugas yang sibuk menyemprot rumput dengan pipa gede yang tersambung ke sebuah mobil tangki berlabel PEMDA ).
Sebenernya sejak kami mutusin untuk pindah ke purwokerto (aku ma suami dulunya kuliah dan kerja di Jogya) kita udah kepikiran kalo tempat untuk bermain dan hang out jadi terbatas (maklum ini kota kecil, sangat jauh dari keramaian). Sempet sedih juga, kalo pingin ngajakin Kay jalan ato hang out ke tempat-tempat favorit dulu ma suami saat masih di Jogja (such as Pantai Baron, Pantai Sundak, Kaliurang, Pasar Ngasem, Soto Tugu, Gudeg Tugu, dll). sesekali kami memang nyempetin ke Jogya, tapi belum semua tempat dah Kay jelajahi selama di Jogya karena keterbatasan waktu liburan.
Eniwei, balik ke alun-alun ....
jam setengah lima kami dah nyampe (butuh waktu 10 menit dari rumah ke alun-alun) ternyata "temen-temen" Kay dah pada berkumpul, karena sore ini langit cerah dan awannya bagus pengunjung yang dateng keliatannya lebih banyak dari wiken-wiken sebelumnya rupanya, kegiatan ngumpul-ngumpul kayak gini bisa melupakan sementara waktu aktivitas kerja dan kesibukan lain yang setiap hari mengimpit kita...
Kayla suka sekali dengan envi alun-alun ini, soalnya selain tempatnya luas banget n seger dengan rumput dan beberapa pohon beringin teduh. Kami mengajak Kay kesini selain buat lebih belajar jalan juga biar dia bisa sosialisasi ma temen-temen sebayanya. Karena envi perumahan yang kami tempati masi lumayan sepi, perumahan baru baru sih, cuma da beberapa temennya Kay yang umurnya sebaya tapi jarang juga ketemuannya. Alun-alun dah dipenuhi anak-anak kecil yang berlarian, nangkep bola, main balon sabun, "bengong", makan sore, naik odong-odong, dan masih banyak yang lainnya.
Nah, belum lama berjalan di atas rerumputan, terdengar alunan musik khas "Topeng Monyet" ternyata bener, di ujung alun-alun sebelah barat utara terdapat pertunjukan "Topeng Monyet"(biasanya kami ga pernah liat ada topeng monyet mentas disini) karna seakan-akan semua pengunjung di alun-alun tersedot kearah suara yang mengiringi pertunjukan "topeng monyet" spontan Kay juga berjalan mengarah ke sumber suara dan Ayah juga menuruti saja kemana kaki Kay berayun. Ayah dan Kay berhasil masuk ke dalam lingkaran penonton dan duduk tepat di linggkaran terdepan, sedang enda hanya berdiri di lingkaran luar.
Awalnya, Joki Topeng Monyet mempertontonkan kelincahan monyetnya dengan mengenakan baju biru sambil bawa gerobak mini-nya. Sesekali monyet itu sengaja menabrak penonton. Beberapa penonton ada yang takut dan seketika itu berlari saat monyet itu mendekat dan teriakanpun pecah walaupun setelahnya penonton tertawa terpingkal-pingkal. Makin lama monyet itu, disuruh tampil lebih atraktif sama Joki, tanpa ragu-ragu pelatih yang memegang rantai monyet menarik rantai yng terikat kuat dileher si monyet. Kok, lama-lama aku jadi ga betah lagi nontonnya, terlalu sadis mungkin. Aku kasian aja acapkali aksi si-Monyet melambat, sentakan kuat harus diterima si monyet dilehernya, As a human, aku ngerasa miris.
Ditengah pertunjukan, hiks...hiks...hwaaaa!! tangisan Kay membuat Ayah sesegera mambawanya ke Enda dan membuat Enda tersentak dari lamunannya, ternyata Kayla nangis waktu liat banyak penonton menjerit-jerit takut (ternyata si monyet makin agresif)...
Ini bukan kali pertama Kay nangis sesenggukan kayak gini, ini juga terjadi sewaktu kami liburan menumpang perahu nelayan menyeberang ke pulau Nusakambangan, Cilacap. Sewaktu mau turun (masih digendongan Ayahnya), ombak masih besar, perahu masih terombang-ambing, namun beberapa penumpang lainnya berteriak ketakutan dan berusaha untuk turun secepatnya, saat itu Kay jadi ikut-ikutan menjerit dan menangis keras....(isn't she get trauma? or just my feeling?)
Sepertinya....Kay mulai sensi sama teriakan...aku harus segera merecover kondisi ini, paling nggak untuk saat ini aku menguasai perasaan takutnya dengan menjauhkannya terlebih dahulu dengan sumber ketakutannya (teriakan, panik...)
_come to bunda Dear...._ 
Untuk meredam ketakutannya, kami berjalan-jalan kembali dan menemukan beberapa anak yang sedang naik Odong-odong, ya udah Kay naik Odong-odong (sampe lama lo), dia mengangguk-anggukan kepalanya saat musiknya diputer dan diem saat nggak ada musiknya bahkan sesekali terdengar suara "ahhh ..." waktu musiknya berhenti, dan alhamdulillah lumayan menghibur...
Kami pulang Bada Maghrib, setiba di rumah Kay makan baso dan nonton "Are Smart Enough Than 5th Grade" bintang tamunya kocak banget, desta ma Vincent Club 80's. Bunda ma Ayah juga saling secepet-cepetan jawab pertanyaannya, kalo ada hubungannya ma IPA, Matematika udah pasti enda jagonya...tapi kalo ada hubungannya ma IPS, SENI ma olahraga, Ayahlah yang paling jago dan kencenga jawabnya...(ok, 50-50 ya)
ini menurut pengalaman sy aja y mbak... kadang anak2 itu ikutan sekelilingnya. Diantara kedua anak sy, Naima yang paling gampang terpengaruh. Kalo di selilingnya pada nangis, dia bisa ikutan nangis (pdhl gak kenapa2 tapi nangisnya gak kalah heboh sama yang lain). Kl pada teriak, dia spontan teriak. Begitu juga kalo susananya lagi gembira.. Tapi makin ke sini sifat ikut-ikutannya makin berkurang. Udah mulai jadi diri dia sendiri..
ReplyDeleteIya juga sih mbak, kali aja mang masih anak2 banget, jadi belum tau harus emosi seperti apa yang di keluarkan untuk situasi seperti itu ...
ReplyDelete